SENDIRI DALAM KESEPIAN


Setiap orang pasti mengalami hal-hal sulit dalam hidupnya, begitu pun yang aku alami sekarang. Disisi lain memang saat ini aku senang menyendiri tapi di sisi lain ada kalanya perasaan sepi itu begitu menggelayut dalam hari-hariku. Lebih tepatnya aku selalu merasa tidak ada orang yang bisa diajak bicara olehku, rasanya mereka terlalu jauh untuk ku gapai. Hanya sendirian menghadapi semuanya.
 Mungkin pernah ada satu orang yang aku percayai dalam hidupku tapi kenyataanya dia menghancurkan semua kepercayaanku. Aku sering menceritatakan apa pun yang aku pikirkan kepadanya dan tentu saja keluh kesalku pun selalu tumpah kepadanya. Aku tak pernah sungkan mengungkapkan apa isi hatiku, termasuk semua isi hatiku yang jarang tersampaikan kepada orang lain tapi ada satu hal yang membuat aku kecewa kepadanya. Dia pernah berkata “kamu tu jangan mengeluh terus”, mungkin memang benar apa yang dikatakanya kepadaku. Karena aku terlalu berlebihan menceritakan semuanya tapi itu karena aku merasa percaya kepadanya, merasa nyaman dan merasa memiliki orang yang bisa aku ajak ngobrol. Setelah kejadian tersebut aku kembali seperti semula merasa tidak ada orang yang benar-benar mengertiku, merasa hidup di dunia ini sendirian padahal disekelilingku banyak sekali orang yang hilir mudik. Mungkin ini semua karena aku terlalu sensitif. Meskipun dia meminta maaf atas kejadian tersebut tapi aku begitu susah percaya lagi. Maaf
 Rasanya sekarang-sekarang ini aku begitu tertekan, disisi lain aku juga perlu bertukar pikiran dengan orang lain, menceritakan apa yang aku alami dan yang aku rasakan sekarang ini. Tapi disisi lain apakah orang tersebut akan mengerti dengan yang aku ceriatakan? Dan kepada siapa  aku harus bercerita?
            Aku tidak tahu kenapa aku harus merasa seperti ini bahkan perasaan sepi ini sudah mulai hadir sejak aku kecil. Aku ingat waktu itu aku sedang mengaji tapi entah kenapa tiba-tiba aku menangis sampai-sampai ibu memarahiku atas kejadian ini. Yang aku rasakan pada waktu itu, rumah terasa sepi dan dingin, begitu mencekam dan hampa.
            Waktu kecil memang aku selalu sendiri, ibu tidak mengijinkanku bermain keluar rumah. Aku hanya bermain sendirian atau paling tidak saudara yang main ke rumahku tapi itu sangat jarang. Barulah setelah SD aku mulai memiliki teman. Masa-masa SD itu terasa sangat menyenangkan tapi aku kembali terperosok kedalam rasa sepi lagi.
            Rasanya aku berjalan di dunia ini sendirian, menyusuri waktu bersama sepi. Kadang aku lelah dengan semua ini dan ingin memutuskan sampai disini saja perjalananku tapi aku tidak sanggup melakukanya.
            Dari dulu hingga sekarang keinginanku tidak berubah, Cuman ingin berada di tengah-tengah orang yang menyayangi dan mencintaiku dengan tulus, merasakan kehangantan dan penuh ceria. Bukankah itu sangat sederhana atau terlalu mahal harga yang harus aku tebus untuk mendapatkan semua itu?
Sejujurnya aku juga tidak ingin menceritakan kesedihanku, aku cuman ingin menceritakan kebahagianku saja kepada mereka tapi bagaimana aku bisa bahagia jika semuanya hari-hariku dipenuhi duka dan aku melewati semuanya sendirian padahal mereka ada disekelilingku, mungkin lebih baik aku tidak memiliki siapapun dari pada mereka ADA tapi aku tidak merasakan kehadiran mereka sama sekali.
            Dari dulu sampai sekarang aku ingin memeluk ibu, sekali saja aku ingin merasakan dekapan ibu dan ingin merasakan perasaanya, merasakan jantungnya berdetak. Aku tau bahwa penyebab penderitaan ibu itu hanya aku. Aku terlalu banyak salah kepada ibu. Kadang aku marah kepada diriku sendiri yang tak bisa menjaga perasaan ibu.
            Andai dia bisa memahamiku mungkin semuanya tak akan seperti ini atau aku yang harus mengerti ibu? Ibu aku takut sendirian, temani aku bu.
Ibu aku ingin melihat ibu tersenyum kepadaku, memeluku dan mengatakan bahwa ibu mencintaiku. Jangan diam-diam seperti itu bu tunjukan sekali saja bahwa ibu mencintaiku dan aku juga akan mengatakan bahwa aku mencintaimu, Bu.
            Aku disini butuh kekuatan bu, butuh bantuan untuk berdiri karena kakiku tak sanggup lagi menahan semuanya. Ibu aku ingin menceritakan kepadamu tentang hari-hariku disini. Apakah ibu ingin mendengar cerita anakmu ini? Disini aku merasakan kesepain bu, tiada teman atau pun kawan yang menemani. Bahkan dari dulu pun aku merasa kesepian bu, kenapa ibu tidak memahami semua perkembangan anakmu ini, bu?
            Ibu aku ingin pulang tapi apakah bapak tetap seperti dulu? Maafkan aku bu karena aku terkadang membenci bapak. Sejujurnya aku cuman ingin disayangi oleh kalian mungkin perasaan sendiri ini akan hilang dan aku akan lebih kuat lagi menjalani kehidupan ini. Dan aku juga tidak akan merasakan kesepian seperti ini lag karena ada kalian yang selalu menemani hari-hariku. Tapi kenapa semuanya terlalu jauh untuk ku jangkau?
3